Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2011

Mengapa membaca Al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?

بسم الله الرحمن الرحيم
Alkisah, hiduplah seorang muslim tua bersama seorang cucunya di sebuah pegunungan di bagian timur Kentucky, Amerika. Sang kakek biasa membaca Qur’an selepas sholat shubuh setiap hari. Sang cucu berusaha meniru setiap tingkah laku kakeknya.
Suatu hari, ia bertanya: “Kek! Aku berusaha membaca Qur’an seperti dirimu tetapi aku tidak mengerti isinya. Jikapun ada sedikit yang kupahami, ia akan terlupakan setiap kali aku menutup kitab itu. Lalu, apa gunanya aku membacanya?”
Dengan perlahan sang kakek membalikkan badan dan berhenti dari memasukkan batu bara ke dalam tungku pemasak. Ia menjawab: “Ambillah keranjang ini, bawalah ke sungai di bawah sana dan bawakan untukku sekeranjang air!”
Sang cucu membawa keranjang hitam penuh jelaga batu bara tersebut ke sungai dan mengambil air. Namun air itu telah habis menetes sebelum sampai ke rumah. Sang kakek tertawa dan meminta sang cucu agar mencobanya sekali lagi: “Mungkin engkau harus lebih cepat membawa airnya kemari.”
Sang cucu berusaha berlari, namun tetap saja air itu lebih cepat keluar dari keranjang sebelum sampai ke rumah. Dengan terengah-engah ia pun mengatakan kepada sang kakek bahwa tidak mungkin mengambil air dengan keranjang. Sebagai gantinya ia akan mengambil air dengan ember.
“Aku tidak perlu satu ember air, yang kuinginkan adalah sekeranjang air!” jawab sang kakek. “Kau saja yang kurang berusaha lebih keras,” timpal sang kakek sambil menyuruhnya mengambil air sekali lagi. Sang kakek pun pergi ke luar rumah untuk melihat usaha sang cucu.
Kali ini sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin membawa air menggunakan keranjang. Namun ia berusaha memperlihatkan kepada sang kakek bahwa secepat apapun ia berlari, air itu akan habis keluar dari keranjang sebelum ia sampai ke rumah. Kejadian yang sama berulang. Sang cucu sampai kepada kakeknya dengan keranjang kosong. “Lihatlah Kek! Tidak ada gunanya membawa air dengan keranjang.” katanya.
“Jadi, kau pikir tidak ada gunanya?”, sang kakek balik bertanya. “Lihatlah keranjang itu!” pinta sang kakek.
Ketika sang cucu memperhatikan keranjang itu sadarlah ia bahwa kini keranjang hitam itu telah bersih dari jelaga, baik bagian luar maupun dalamnya, dan terlihat seperti keranjang baru.
“Cucuku, demikianlah yang terjadi ketika engkau membaca al Qur’an. Engkau mungkin tidak mengerti atau tidak bisa mengingat apa yang engkau baca darinya. Namun ketika engkau membacanya, engkau akan dibersihkan dan mengalami perubahan, luar maupun dalam. Itulah kekuasaan dan nikmat Allah kepada kita!”di ambil dari
 blog.al-habib.info/id

Sabtu, 21 Mei 2011

Ikhlash

بسم الله الرحمن الرحيم
Allah SWT memeritahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, Ini maknanya sangat luas. Kebaikan ada yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Mengajak kepada kebaikan yang terlihat adalah yang sering dilakukan oleh penyeru kepada kebaikan. Mengajak orang lain untuk melakukan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, bersedekah dan lain sebagainya. Dan itu memang kewajiban sebagai seorang muslim.

Akan tetapi sudahkah kita melangkah untuk mengajak kepada kebaikan yang tersembunyi ? Kebaikan yang kebaradaanya adalah sangat penting dibanding kebaikan yang terlihat. Dibalik kebaikan yang terlihat ada ruhnya. Shalat ada ruhnya, infaq sedekah juga ada ruhnya. Dan ruhnya adalah kebaikan yang tersembunyi yang disebut dengan Ikhlas. Orang sering melupakan " ikhlas " disaat mengajak orang lain dalam kebaikan. Artinya unsur ikhlas sering terkesampingkan.

Seseorang yang ingin membangun sebuah Pesantren, Lalu ia datang kepada sebagian sahabat-sahabatnya untuk mengajak mereka agar bisa ikut membantu berdirinya proyek ladang akhirat ini. Sehingga ia pun menyanjung sahabat- sahabatnya dengan segudang sanjungan agar besar hatinya untuk berinfaq kepada pesantren tersebut. Ia telah berhasil merayu orang lain untuk berinfaq akan tetapi ketauhilah ia telah dzolim kepada sahabatnya tersebut. Ia hanya menginginkan sahabatnya keluar uang akan tetapi tidak menginginkan sahabatnya mendapatkan pahala. Sebab sanjungan berlebihan yang disampaikan telah meruntuhkan hati sahabatnya untuk berinfaq. Akan tetapi berinfaq bukan karena rindu kepada Allah SWT, tetapi hanya karena merasa besar hatinya oleh sanjungan.

Alangkah aniayanya kita jika ternyata hanya berfikir tentang kemegahan bangunan yang kita bangun tanpa memikirkan sahabat kita yang telah membantu kita agar beruntung kelak di akhirat. Mungkin ada yang mencari dana dengan prinsip " yang penting banyak , pembangunan masjid cepat selesai, terserah apakah yang memberi ikhlas atau tidak ikhlas ". Sungguh ini adalah satu kedzoliman dari orang yang tidak mengerti makna mengajak kepada kebaikan.

Akan tetapi, sungguh mengajak kebaikan yang tidak terlihat perlu renungan yang tiada henti. Jangan sampai saudara kita telah keluar dana jutaan rupiah untuk pesantren atau Masjid kita akan tetapi ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa di hadapan Allah SWT.

Kita harus ajari saudara kita untuk bisa ikhlas dalam beramal. Ini adalah hal yang amat penting dalam mengajak kepada kebaikan. Bahkan itu lebih penting dari yang lainya karena hal itu adalah ruh dari segala kebaikan.

Dalam hal ini ada tiga hal yang harus kita perhatikan yaitu :

Pertama, kita harus senantiasa mendo'akan orang-orang yang telah membantu kita dalam kebaikan, semoga Allah SWT senantiasa memberi kepada mereka keikhlasan.

Kedua, gunakanlah akhlak yang mulia disaat Anda mengajak seseorang dalam kebaikan atau meminta dana untuk sebuah pesantren, agar kesiapan mereka dalam mengikuti ajakan kita itu karena hatinya yang telah sadar akan kemulyaan dihadapan Allah SWT, bukan karena tertipu oleh sanjungan kita atau merasa malu karena kita jika tidak berbuat atau tidak memberi.

Ketiga, bawalah dalam perbincangan dengan kita, dalam setiap pertemuan dengan kita kepada hal-hal yang bisa menjaga keikhlasan dalam beramal dan kerinduan kepada pahala Allah SWT . Wallahu a'lam bishshowab.

Di Ambil dari Mutiara Hikmah Buya Yahya

Kamis, 19 Mei 2011

Jangan katakan Akulah yang Terbaik

بسم الله الر حمن الرخحيم
Slogan Ibliss” Akulah yang Terbaik”
Teringat sebuah kisah yang di jabarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran tentang sebab terkutuknya Iblis. Yaitu disaat iblis tidak mematuhi perintah Allah SWT untuk bersujud. Maka bersama itu juga iblis menjadi makhluk pertama yang terkutuk. Ada yang perlu dicermati dibalik penolakan iblis untuk sujud, yang karenanya iblis menjadi terkutuk. Yaitu karena iblis merasa lebih baik dari Nabi Adam AS dan berkata "Ana Khoirun Minhu" (Aku lebih baik dari Adam). Disaat iblis menojolkan ke-AKU-anya itulah awal bencana untuk Iblis.
Bisa kita membuat suatu gambaran akan sebuah cara menjalani hidup iblis yang salah yang terbaca pada masa kehidupan Nabi Adam dengan iblis. Yaitu cara hidup yang mengikuti faham AKU.
Faham AKU adalah faham iblis yang kemuliaan Islam sangat menentangnya. Faham AKU adalah faham kesombongan. Dan inilah yang pernah di isyaratkan Nabi Muhammad SAW bahwa yang menganggap dirinya bersih adalah yang terjerumus dalam jurang kehinaan dan tidak ada yang bisa mengangkatnya kecuali melawan hawa nafsunya yang senang membanggakan diri.
Saat ini kita harus lebih banyak berdoa untuk diri kita sendiri dan saudara-saudara kita yang diam-diam telah menganut fahan AKU ini. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dan mereka dari terjerumus dalam kehinaan faham AKU ini. Karena saat ini kita sungguh dihadapkan pada suatu suasana yang telah menyuburkan faham AKU ini.
Yang telah di ajarkan Islam, jika ada pengangkatan pemimpin atau orang-orang yang akan mewakili kaum muslimin dalam sebuah tatanan atau tugas besar, yang ada dalam Islam adalah Tazkiyah (rekomendasi) yang di berikan kepada seorang calon pemimpin dan wakil rakyat dari kaum muslimin yang mempunyai wawasan agama dan ketaqwaan.
Artinya penilain baik dan tidaknya seorang calon pemimpin dan wakil rakyat adalah di tetuntukan oleh khalayak yang beriman dan mempunyai wawasan tentang tugas seorang pemimpin dan wakil rakyat. Inilah hal terpenting yang membedakan antara politik Islam dan bukan Islam. Di dalam Islam ada Syuuro yang sering diterjemahkan oleh sebagian orang dengan demokrasi. Padahal sesungguhnya sangat berbeda antara demokrasi dengan Syuuro. Islam tidak mengenal demokrasi karena demokrasi tidak akan menghantarkan kepada pemilihan pemimpin yang benar. Syuroo dalam memilih pemimpin adalah memilih pemimpin oleh orang-orang yang mampu mencemati, memilih, mempelajari dan memahami tugas pemimpin. Sedangkan demokrasi adalah memilih pemimpin oleh semua orang yang mampu berfikir cerdas ataupun yang tidak mampu termasuk orang pikun dan lemah akalpun sama suaranya dengan profesor yang soleh. Barangkali andapun pernah melihat di sebuah pesta demokrasi seorang kakek tua, tuli, kabur penglihatan, sering pikun dan tidak kenal calon A dan calon B harus masuk TPS memilih seorang pemimpin.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda " Janganlah engkau berikan kepemimpinan kepada orang yang memintanya darimu". Begitu juga kisah Sayyidina Umar bin Khottob yang ingin mengangkat seorang gubernur, beliau minta kepada tokoh-tokoh yang ada untuk merekomendasikan orang-orang yang layak menjadi gubernur. Dan disaat ada orang yang mengajukan satu orang, sayyidina Umar bertanya “ Apa alasanmu memberi rekomendasi terhadap orang itu? Dijawab,” kami saksikan ia sangat rajin di masjid”. Kemudian sayyidina Umar bertanya “ apakah engkau pernah berjual beli dan pinjam meminjam denganya? ” Di jawab “belum ”. Kata sayyidina Umar,” rekomendasimu tidak di anggap, sebab pemimpin dan wakil rakyat harus sudah teruji kejujuranya kepada Allah dan kejujurannya kepada sesama, belum cukup untuk mengangkat seorang pemimpin yang hanya terlihat baik di masjid saja, begitu juga yang tidak kenal masjid tidaklah pantas menjadi pemimpin dan wakil rakyat”.
Riwayat yang kita dengar dari Rasulullah dan Sayyida Umar bin Khottob adalah sebuah pendidikan bagi kita disaat memilih pemimpin dan wakil rakyat. Sekaligus untuk menjauhkan para calon pemimpin dan wakil rakyat dari faham AKU yang menjadikan seorang hamba di kutuk dan di murkai oleh Allah SWT.
Saat inipun kita harus tanggap dan cerdas melihat disekitar kita, begitu banyaknya propaganda faham AKU memenuhi jalan-jalan. Kita sering dikejutkan oleh gambar orang yang tidak pernah kita kenal tampil di jalan-jalan dan mengatakan beragam ungkapan yang menunjukkan bahwa faham AKU nya iblis telah di anut oleh bangsa manusia. Kami tidak mengatakan bahwa mereka tidak layak dipilih akan tetapi kami hanya mencermati bahwa cara memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang benar, bukanlah dengan cara menyuburkan faham AKUnya iblis. Dan penganut faham AKU tidaklah pantas untuk dipilih. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari faham AKU nya sang iblis ini.
Wallahu a'lam bissawab.
Diambil dari Mutiara Hikmah Buya Yahya

Senin, 20 Desember 2010

Mari panjangkan umur orang tua kita


بسم الله الرحمن الرحيم
UMUR PANJANG merupakan karunia Allah swt kepada hambaNya. Umur panjang yang dimaksud bukan dalam pengertian sepanjang penanggalan tetapi yang dimaksud umur panjang adalah bagaimana orang tersebut meskipun sudah meninggal tetapi dikenang dan tetap bersambung antara keluarga yang meninggal dengan yang ditinggalkannya. Peran anak sholeh yang bagaimanakah yang bisa memanjangkan umur orang tua ini , berikut adalah uraian dari KH. Aris Ni'matullah
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw besabda: "Barangsiapa yang menginginkan rezekinya dimudahkan dan usianya dipanjangkan maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud Ahmad bin Hambal)
Kita wajib bersyukur kepada Allah swt karena mengirimkan perasaan kasih sayang yang dalam terhadap anak-anak di setiap dada para orang tuanya. Demikian pula anak yang sholeh di dadanya ditanamkan Allah perasaan untuk selalu ingin berbuat terbaik bagi kedua orang tuanya baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal.

Bermula dari keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak ini melahirkan kebaikan sosial masyarakat. Allah dan Rasul-Nya memuji keharmo­nisan hubungan ini, sehingga seolah-olah surga terletak di bawah telapak kaki para ibu. Bagaimana  upaya memanjang­kan umur orang tua agar terus-menerus terjalin hubungan harmonis, meskipun orang tua sudah tiada. Adakah cara yang efektif untuk tetap bersilaturahmi kepada mereka?

Dalam kitab Bujairimi, dan banyak kitab lain mengupasnya misalnya kitab Irsyadul Ibad  diceritakan bagaimana mimpi seorang ulama yang mampu melihat orang-orang yang meninggal di alam barzah beserta suka-dukanya. Dalam mimpi itu orang alim ini bertemu dengan para arwah yang telah mendahuluinya ada yang dikenal ada yang tidak. Suatu ketika dalam mimpi itu  bertemu dengan orang-orang  yang tengah berebut makanan yang datang kepada mereka secara rutin.

panjang umur Rupaya mereka sering sekali mendapat kiriman namun tidak ditujukan pada seseorang. Rupaanya orang alim ini memahami bahwa kiriman itu diketahui berasal dari orang-orang yang masih hidup yang membacakan do'a untuk muslimin dan muslimat, atau membacakan ayat-ayat al Quran dan lain-lain. Pada salah satu tempat, ada seorang laki-laki yang tenang-tenang saja tidak ikut berebutan makanan padahal yang lain saling mendahului untuk mendapatkannya. 
Untuk menghilangkan rasa penasaran, masih dalam mimpi itu, orang alim ini mendatanginya dan bertanya: "Mengapa bapak tidak ikut berebut makanan dengan yang lainnya, apa ada kesulitan untuk ikut serta mereka?".

Lalu si Bapak ini menjawab: "Saya tidak perlu ikut berebut makanan dengan mereka sebab anakku sudah terbiasa mengirim pahala membaca Al Qur'an secara rutin Aku merasa bahagia dan merasa cukup dengan doa-doa dan bacaan Al Quran yang dibacakan oleh anakku.", "Memangnya bapak ini siapa namanya, dan siapa nama anak bapak itu dan dimana alamatnya, jika diizinkan saya akan mengunjunginya."

"Dengan bangga Bapak itu memberi tahu alamat dan nama anaknya." Benar saja, ketika sadar dari mimpinya, orang alim ini buru-buru mencari alamat anak tersebut dan anehnya, persis tepat apa yang ada dalam mimpi tersebut.

Ketika dikonfirmasi betapa kagetnya, sebab nama orang yang ditemui di dalam mimpi dan ciri-cirinya persis seperti yang diceritakan anak itu. Lalu ketika ditanyakan benarkah suka membaca do'a dan Al Qur'an ditujukan kepada orang tuanya, sia anak dengan penuh bangga membenarkannya. 

Kebenaran Sebuah Mimpi
Dalam kitab Raudhatun Nadziroh Tatlubul Akhiroh, pada hadits no. 688 dan 689 disebutkan bahwa menurut Rasulullah saw mimpi bagi orang alim (sholeh) merupakan 1/46 sifat nubuwah dan dipastikan berasal dari Allah swt. Artinya merupakan sebuah keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang alim mirip wahyu/mu'jizat yang diturunkan Allah kepada nabi dan Rasul-Nya.

عَنْ أَنَسٍ رَضِى الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلرُّؤْيَا الْحَسَنَةَ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا. (رواه البخاري

Artinya: "Dari Anas ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Mimpi baik dari seorang laki-laki yang sholeh merupakan 1/46 bagian." 

 عَنْ ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ اِلاَّ الْمُبَشِّرَاتِ قَالُوْا وَمَا الْمُبَشِّرَاتِ؟ قَالَ: اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةِ.  (رواه البخاري

Artinya: dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Belum cukup memiliki sifat nubuwah kecuali telah memiliki mubasyirot. Para sahabat bertanya apakah mubasyirot itu? Rasul menjawab: "Mimpi yang baik" (HR. Bukhory)

Dalam kitab Shoheh Bukhory hadits no. 6469 Rasulullah saw bersabda bahwa mimpi yang baik adalah berasal dari Allah dan mimpi jelek berasal dari syetan. 

Hakekat Panjang Umur
Dari peristiwa yang terdapat dalam kitab Bujairimi dan kitab Irsyadul Ibad juga dibernarkan oleh Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya, ternyata bersilaturahmi kepada orang tua yang sudah meninggal sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan mereka.

Inilah makna hakekat dari dipanjangkan umurnya. Menurut kitab ini, panjang umur adalah memiliki anak yang sholeh. Seperti dalam hadits tentang warisan anak soleh akan selalu mendoakan dan mengirimkan hadiah untuk orang tuanya. Bagaimana dengan Anda sudahkah selalu bersilaturahmi dengan orang tua yang masih hidup dan yang sudah wafat? Wallahu a'lam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates